Memaparkan catatan dengan label Kisah-Kisah Bermanfaat. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Kisah-Kisah Bermanfaat. Papar semua catatan

Jumaat, 16 Februari 2018

Buta, Botak, Kusta.

Kisah 3 orang Bani Israil. Ada yang buta, berkepala botak dan berpenyakit kusta. Kisah ini menandakan ada orang yang bersyukur dan ada yang kufur terhadap nikmat Allah. Kita tentu saja mencontoh perilaku yang baik dan meninggalkan perilaku yang jelek dari kisah ini.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahawa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ ثَلاَثَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى،
فَأَرَادَ اللهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا.

“Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, iaitu: penderita penyakit kusta, orang berkepala botak dan orang buta. Kemudian Allah Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

فَأَتَى اْلأَبْرَصَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟
قَالَ: لَوْنٌ حَسَنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسَ بِهِ، قَالَ: فَمَسَحَهُ، فَذَهَبْ عَنْهُ قَذَرُهُ، فَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا وَجِلْدًا حَسَنًا، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: اْلإِبِلُ أَوِ الْبَقَرُ – شّكٌّ إِسْحَاقُ – فَأُعْطِيَ نَاقَةً عُشْرَاءَ، فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا.

Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kusta dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan iapun didoakan: “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.”

قَالَ: فَأَتَى اْلأَقْرَعَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟
قَالَ: شَعْرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ بِهِ، فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ، وَأُعْطِيَ شَعْرًا حَسَنًا، فَقَالَ: أَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: الْبَقَرُ أَوِ اْلإِبِلُ، فَأُعْطِيَ بَقَرَةً حَامِلاً، قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا.

Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat tadi bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang kamu senangi?” Ia menjawab: “Sapi atau unta.” Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting dan didoakan: “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

فَأَتَى اْلأَعْمَى، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: أَنْ يُرِدِ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَأَبْصَرَ بِهِ النَّاسَ، فَمَسَحَهُ، فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: الْغَنَمَ، فَأُعْطِيَ شَاةً وَالِدًا.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا، فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنَ اْلإِبِلِ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْبَقَر، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْغَنَمِ.

Lalu berkembangbiaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya:

ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى اْلأَبْرَصَ فِي صُوْرَتِهِ وَهَيْئَتِهِ، قَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحُسْنَ وَالْجِلْدَ الْحُسْنَ وَالْمَالَ، بَعِيْرًا أَتَبَلَّغُ بِهِ فِي سَفَرِي، فَقَالَ: الْحُقُوْقُ كَثِيْرَةٌ، فَقَالَ لَهُ: كَأَنِّي أَعْرَفْكَ! أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ، فَقِيْرًا فَأَعْطَاكَ اللهُ الْمَالَ؟ فَقَالَ: إِنَّمَا وَرَثْتُ هَذَا الْمَالَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كاَذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ.

“Kemudian, datanglah Malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit kusta, dengan menyerupai dirinya (iaitu di saat ia masih dalam keadaan berpenyakit kusta), dan berkata kepadanya: “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.” Tetapi dijawab: “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.” Malaikat tadi berkata kepadanya: “Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dulu orang yang menderita penyakit kusta, yang orang-orang pun jijik melihat anda, lagi pula anda miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan?” Dia malah menjawab: “Harta kekayaan ini aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka  malaikat tadi berkata kepadanya: “Jika anda berkata dusta nescaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.”

قَالَ: وَأَتَى اْلأَقْرَعَ فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا، وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَيْهِ هَذَا، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya (disaat masih botak), dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit kusta, serta ditolaknya sebagaimana ia telah ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata: “Jika anda berkata dusta nescaya Allah akan mengembalikan anda seperti keadaan semula.”

قَالَ: وَأَتَى اْلأَعْمَى فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ وَابْنُ سَبِيْلٍ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالِ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي، فَقَالَ: قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي، فَخَذَ مَا شِئْتَ، وَدَعْ مَا شِئْتَ، فَوَاللهِ لاَ أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشَيْءٍ أَخَذْتَهُ للهُ، فَقَالَ: أَمْسِكْ مَالَكَ، فَإِنَّمَا ابْتُلِيْتُمْ، فَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْكَ وَسَخَطُ عَلَى صَاحِبَيْكَ

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu (di saat ia masih buta), dan berkata kepadanya: “Aku adalah orang yang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” Maka orang itu menjawab: “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil kerana Allah.” Maka malaikat tadi berkata: “Peganglah kekayaan anda, kerana sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah redha kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.” (Hadis Sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3464 & Muslim, no. 2964).

Rabu, 18 Januari 2017

Kalau orang mengumpat aku, aku yang dapat pahala.

Penting! Satu kisah yang baik untuk dijadikan panduan dan pengajaran. Kata kebiasaan kita: “Biarlah aku nak buat apapun, kalau orang mengumpat aku, aku yang dapat pahala.”

Mari kita baca kisah dibawah ini sekejap.

Kisah Ibrahim al-Nakha’ie Bersama Anak Muridnya:

• Diriwayatkan bahawa Ibrahim al-Nakha’ie adalah seorang yang buta dan anak muridnya, Sulaiman bin Mehran al-A’masy pula seorang yang rabun. Satu hari keduanya berjalan bersama-sama menuju ke masjid. Kata Ibrahim: “Sulaiman, apa kata kamu ikut jalan yang lain manakala aku pula ikut jalan yang lain kerana aku takut nanti orang ramai melihat kita lalu berkata si buta dipimpin si rabun lalu mereka mengumpat kita dan mendapat dosa”. Kata Sulaiman: “Wahai guruku, apa salahnya kita akan mendapat ganjaran pahala dan mereka (yang mengumpat) berdosa”. Jawab Ibrahim: “Tidak, kita selamat dan mereka juga selamat itu lebih baik dari kita diberi ganjaran pahala sedangkan mereka mendapat dosa”. [Lihat al-Muntazom fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam karya Ibn al-Jawzi, 7/22]

• Lihatlah akhlak yang telah ditonjolkan oleh Ibrahim al-Nakha’ie yang mana beliau bertanggungjawab ke atas perbuatannya. Boleh saja mereka berdua berjalan bersama untuk pergi ke masjid. Namun, apabila memikirkan mulut dan hati manusia lain yang tidak boleh di kawal dari mengumpat dan mencaci, maka mereka menggunakan jalan yang lain agar jauh dari manusia yang lain. Mungkin kita lebih suka untuk mendapat pahala hasil daripada umpatan orang lain sedangkan tanpa kita sedari perbuatan kita itu sendiri yang telah mengundang cacian dan umpatan. Ini tidak disukai oleh Ibrahim al-Nakha’ie dan baginya jika kedua-duanya terselamat adalah lebih baik.

• Begitulah realiti pada masa kini. Janganlah kita cuba untuk menempah fitnah dengan perbuatan kita yang pada asalnya tidak bermasalah namun, jika tidak kena cara dan tempatnya boleh mengundang fitnah. Mentaliti seseorang yang mengatakan, “Biarlah aku nak buat apapun. Kalau orang mengumpat aku, aku yang dapat pahala” sangat tidak selari dengan prinsip dan akhlak Islami yang mana suka akan ditutupnya pintu-pintu fitnah dari tersebar luas. - Ustaz Dr. Zulkifli Mohamad Al-Bakri.

19 Januari 2017.
Khamis, 7.30 am. Ipoh, Perak.

Selasa, 27 September 2011

Dialog seorang pelajar Muslim.


Seorang Cikgu, Guru bukan Islam bertanyakan pelajarnya.

Guru : Adakah kamu nampak Meja ini?
Pelajar : Ya.
Guru : sudah tentu, kerana ia ada dan dapat dilihat disini.

Guru : Adakah kamu nampak Papan Hitam ini?
Pelajar : Ya.
Guru : sudah tentu, kerana ia ada dan dapat dilihat disini.

Guru : Adakah kamu nampak Pen ini?
Pelajar : Ya.
Guru : sudah tentu, kerana ia ada dan dapat dilihat disini.

Guru : Adakah kamu nampak Allah?
Pelajar : Tidak.
Guru : sudah tentu, Allah itu tidaklah wujud kerana tak dapat dilihat disini.

Lalu bangun seorang pelajar Muslim dan berdialog juga dengan pelajar tadi.

Pelajar Muslim : Adakah kamu nampak Pen ini?
Pelajar tadi : Ya.
Pelajar Muslim : sudah tentu, kerana ia ada dan dapat dilihat disini.

Pelajar Muslim : Adakah kamu nampak Meja ini?
Pelajar tadi : Ya.
Pelajar Muslim : sudah tentu, kerana ia ada dan dapat dilihat disini.

Pelajar Muslim : Adakah kamu nampak akal Cikgu, Guru?
Pelajar tadi : Tidak.
Pelajar Muslim : sudah tentu, Guru itu tidak ada akal kerana tak dapat dilihat disini.